Puisi Gunung Banyak
Hari ini aku naik
ke Gunung Banyak
dan di atas rerumputan aku duduk,
sendiri, tanpa tahu apa yang ingin
kulakukan
Maka aku duduk, duduk,
membelai rerumputan, dan
aku duduk lebih lama lagi
Terik datang, lalu angin datang,
lalu awan datang,
lalu aku beranjak,
jeansku basah oleh
sisa-sisa embun
Aku pulang, mencari-cari jalan
baru, riang oleh
perjalanan yang tak
kurencanakan dan tak kuketahui
arahnya ini
Barangkali kesedihanmu,
teman, adalah karena
engkau telah tahu terlalu banyak
tentang jalan hidupmu,
paham terlalu dalam
apa yang ingin kau cari
Barangkali hidup adalah
jalanan asing di perbukitan,
berkelok dengan
pepohonan di sekeliling, jalanan
yang kita cukup tahu ke mana
ujungnya
dari ceritera orang,
dari papan penunjuk jalan
Toh itu semua tak sungguh penting,
karena udara terlampau sejuk dan
burung-burung bernyanyi terlalu merdu
untuk kau acuhkan.
Sama.
Ah, masih juga seperti ini engkau, hatiku
anak zaman yang yatim piatu.
Baiklah, dan menangislah
engkau hari
ini:
mereka, mereka bahkan tidak tahu
engkau ini
ada, dan
merasa.
Samsara.
Karam,
merapuh dan tenggelam
terbawa badai dan
gemuruh semesta
Jatuh,
menghempas dan luruh
tersentak hujan dan
terik samsara
Ini hatiku,
hatiku,
memanggil,
menggigil.
Maka itu Kita Pergi
Hujan,
hujan yang terpercik di atas payungmu,
di bawah sepatu bootmu
Hanya air,
hanya air. Oh, tentu, sesekali
ia membuatmu menggigil, membasahi pakaianmu, dan
jika angin sedang ingin berhembus kencang ada kalanya
tetes-tetes itu menjelma peluru, tajam
menusuk-nusuk kulit lenganmu
tetapi tetap
hanya air, yang
bisa dengan mudah engkau
menangkapnya, menamparnya, membawanya
bersamamu ke mana kau pergi dalam
wadah plastik, kaca, dalam
apa saja
Juga adalah hujan
yang perlahan meresap
di hatimu, tetes demi tetes
membuatmu percaya tentang
nasib buruk, tentang jalan
yang tak ada
ujungnya, tentang redup yang
tak ada hentinya
Maka itu kita pergi,
berlari, mencari
matahari.
Mendengarmu
Biarkan, biar aku mendengarmu
juga bila engkau terdiam sewaktu
rintik badai menghampirimu (“Ini
musim cuaca buruk,” kata mereka, “jangan
dulu datang padanya.”—tetapi apa peduliku?)
Juga bila engkau terbangun pada pagimu:
dengan burung-burung lautan dan
awan-awan. Aku ingin mendengarmu, sudah,
perihal ini sudah tidak bisa
ditawar-tawar
lagi
Juga bila engkau tidak peduli sebagaimana
aku tidak peduli dan satu seribu sejuta kali
ombak memecah diri di daratan lalu
pulang kembali, setahun sewindu berlalu
sentiasa,
sentiasa (“Apatis,” katanya, tetapi kita
tidak sedang berputus asa, bukan?)
Lewat kata yang
dibisikkan dedaunan, pada pesan-pesan
di kaki-kaki angin, dalam botol kaca yang
terdampar, pada
jejak-jejak kaki kepiting dan keong
dan entah apa, biar aku
mendengarmu.
Vignette #1
Hujan,
setengah sepuluh malam
dan terlelap hatiku
bersama rintik
bersama renyai
bersama waktu yang dari tepian
kupandangi lepas larinya
Bahwa bukankah hidup
yang kuhirup memenuhi dadaku ini?
Lelaplah, Lelap
Lelaplah, lelap
dalam tidurmu sendiri
entah sudah esok engkau
pergi atau hidup kembali, karena
sudah cukup keruh hatimu
hari ini, tidak akan terbit
lagi mentari
hari ini, pasti,
pasti.
Runtuhlah, runtuh
pada harapmu sendiri
entah sudah esok engkau
usai atau bermimpi kembali, karena
telah sesak mendesak jiwamu
hari ini, tidak akan menyingkir
awan gelap pada rembulan
malam ini, pasti
pasti.
Mengapa masih juga
engkau ingin
maju berang, berperang?
Mengapa?
Raih
Raih
juga meski bersimbah darah
tanganmu, tak apa
tak apa, tidak ada
pencapaian bersandar sekedar
keberuntungan,
tidak
pantas, tidak layak,
tidak patut!
Raih
walau gemetar hatimu meminta
sudah cukup hidup yang
begini saja, yang
sehari-hari saja:
Lawan!
Tidak cukup engkau sendiri
yang hidup nyaman, karena
pada tiap-tiap ilmu yang
bersemayam di otakmu adalah
mereka-mereka yang
bergantung berharap
membutuhkanmu, kepalanya
sendiri telah
penuh oleh asap polusi, tumpukan
kertas-kertas segala apa dan
rupa-rupa bagaimana
menyambung hidup
esok hari
Raih!
Kejar dan laju, jangan hanya berani mati
di garis awal tanpa pernah
berlari
Manvasanai
Hujan,
hujan menjelma festival
menjelma karnaval, dan
pada uap hangat teh yang
membumbung mengejar
impian-impiannya sendiri,
menuju bintang-bintang yang
tak dapat kaulihat tetapi
ada, selalu ada,
kusisipkan pula harapku agar
pula terbang, terbang, tak
terhalangi langit-langit,
rintik air dan
hembus angin di sela
awan
Pergilah, pergi tinggi dan
jauh pada semesta yang
menunggumu, sampaikan
bahwa aku masih berlari
bernyanyi di
antara
riuh hujan,
hujan yang menjelma festival
menjelma karnaval.
Selamanya Sunyi, Selamanya Sendiri
Pada satu sisi ada dunia,
dan pada sisi lain engkau
keduanya tak akan
pernah bertemu, dan engkau
sunyi, sendiri
Persetan dengan seberapa
lama engkau sempat hidup di bawah
gemerlap lampu sorotnya,
karena nanti
pada saatnya pasti engkau akan kembali
pada sajak ini lagi
Dan akan sekali lagi kelu lidahmu
menyadari bahwa pada satu sisi
ada dunia,
dan pada sisi lain engkau,
dan selamanya engkau
sunyi, sendiri
Kiss Me
Pada setiap
malam, bersisian bersama
hijau, hijau padang rerumputan
dan setapak yang berputar-putar
sepatu yang sama, gaun
yang sama
Di antara
temaram senja, bawa
-ku pada lantai yang bermandi sinar
rembulan, angkat
tanganmu: minta mereka
mulai bernyanyi hingga
kunang-kunang pun
menari
Di bawah
rumah pohon yang tak
lagi berpenghuni, ayunkan
tubuhku pada ayunan rodanya
bawa, bawa pula topimu
mari berlari telusuri jejak-jejak pada
peta
tuamu
oh di antara
temaram senja
dan gemerlap
perak
rembulan…
Moksa
Tetapi di dalam cahaya, di dalam cahaya
yang merasuk pada bola matamu adalah
perjalanan
menembus waktu dan nebula dan gravitas
yang tarik-ulur seperti malam dan
pagi datang berganti-ganti
Tetapi di dalam cahaya, di dalam cahaya
yang binar di sudut langit temaram adalah
pengorbanan
yang dilaluinya pada lama yang tak bisa
kau mengerti, pada jarak yang tak bisa
kau mengerti
Hanya untuk lalu
terbersit sejenak pada pandang
hatimu, pada
ruang pemahamanmu,
dan ia
moksa
selamanya
Jadi apa sebentar lagi
yang ingin kau
jalani?
Di Pemakaman
Pemakaman penuh, selalu penuh
entah oleh para penghuninya yang
berdesakan, atau oleh para penghantar yang
berdesakan
Tetapi aku, selalu aku
berpikir akan hidup selamanya
Pemakaman kering berdebu, selalu begitu
dan hanya enam bulan sekali, satu tahun sekali
lima tahun sekali tanahnya disirami oleh
kerabat-kerabat yang sesekali
masih teringat
Tetapi aku, selalu aku
berpikir dapat hidup denganku sendiri
Di pemakaman aku
kelu.
Lebih Dari Kapan Saja Aku Bisa.
Ramadhan belum usai dan
setan-setan belum datang untuk
menebarkan kebohongan pada ujarku;
Jadi ketahuilah bahwa
hari ini aku mencintaimu
sungguh, lebih
dari
kapan saja
aku bisa.
Senantiasa
Bangun dan terjagalah,
impilara, senantiasa
dan kuminta
seterusnya.
Full Moon Blues
Rembulan penuh, dan
telapak tanganku yang merah muram:
“Mari, teman,
malam ini kita fakir dan durja dan
kita berpura memaksa lupa
apa warna dan rasa
dunia.”
Mencariku
Tak ingin sedetikpun aku mencariMu, tidak!
aku tak punya nyali untuk
membuat-buat seolah mungkin bagiMu
untuk
hilang
Tidak.
Aku, aku yang
hilang
Maka akan kucari diriku ini
ke mana saja
hingga nanti kutemukan dan
kalau perlu
kuseretpaksa dia untuk sekali
lagi berdiri atau duduk atau terbaring
menghadapMu
Aku akan
mencariku.
…bahwa sejatinya hatiku ini tolong Engkau ambil dan perlakukan apa saja.
Bahwa sesungguhnya
Engkau mengambilku lebih
kusukai daripada untukku
melukai,
namun di satu sisi
aku tak sungguh punya
cukup untuk kubawa
menghadapMu
jadi
bagaimana?
Bahwa sebenar-benarnya
aku menolak untuk menyerah
bukan karena dia, dia
dia, namun hanya
karena
Engkau
tak mengizinkanku
menyerah
jadi
bagaimana?
Bahwa sejatinya
hatiku ini tolong
Engkau ambil dan
perlakukan apa saja,
apa saja, karena aku
terbukti tak
sungguh tahu
ke mana
harus
membawanya,
tolong ambil
dan bawa ke mana
saja
Engkau tahu
aku
tidak.
Aku Bersajak Karena Aku
Aku bersajak karena aku
gundah, dan
pada akhirnya di balik segala
perilakuku
aku tak ingin
menjadi
jahat.
Tentang Ini Aku Menangis
“Percaya engkau
pada cinta?”
satu waktu aku bertanya
padaku
sendiri
“Aku percaya
tentang mati,”
jawabku, “saat
mati kita
sendiri. Juga saat
dibangkitkan,
kita
sendiri.”
Kalau perlu aku untuk
menangis,
tentang ini aku
akan
menangis