Moksa
Tetapi di dalam cahaya, di dalam cahaya
yang merasuk pada bola matamu adalah
perjalanan
menembus waktu dan nebula dan gravitas
yang tarik-ulur seperti malam dan
pagi datang berganti-ganti
Tetapi di dalam cahaya, di dalam cahaya
yang binar di sudut langit temaram adalah
pengorbanan
yang dilaluinya pada lama yang tak bisa
kau mengerti, pada jarak yang tak bisa
kau mengerti
Hanya untuk lalu
terbersit sejenak pada pandang
hatimu, pada
ruang pemahamanmu,
dan ia
moksa
selamanya
Jadi apa sebentar lagi
yang ingin kau
jalani?
Di Pemakaman
Pemakaman penuh, selalu penuh
entah oleh para penghuninya yang
berdesakan, atau oleh para penghantar yang
berdesakan
Tetapi aku, selalu aku
berpikir akan hidup selamanya
Pemakaman kering berdebu, selalu begitu
dan hanya enam bulan sekali, satu tahun sekali
lima tahun sekali tanahnya disirami oleh
kerabat-kerabat yang sesekali
masih teringat
Tetapi aku, selalu aku
berpikir dapat hidup denganku sendiri
Di pemakaman aku
kelu.
Lebih Dari Kapan Saja Aku Bisa.
Ramadhan belum usai dan
setan-setan belum datang untuk
menebarkan kebohongan pada ujarku;
Jadi ketahuilah bahwa
hari ini aku mencintaimu
sungguh, lebih
dari
kapan saja
aku bisa.
Senantiasa
Bangun dan terjagalah,
impilara, senantiasa
dan kuminta
seterusnya.
Full Moon Blues
Rembulan penuh, dan
telapak tanganku yang merah muram:
“Mari, teman,
malam ini kita fakir dan durja dan
kita berpura memaksa lupa
apa warna dan rasa
dunia.”
Mencariku
Tak ingin sedetikpun aku mencariMu, tidak!
aku tak punya nyali untuk
membuat-buat seolah mungkin bagiMu
untuk
hilang
Tidak.
Aku, aku yang
hilang
Maka akan kucari diriku ini
ke mana saja
hingga nanti kutemukan dan
kalau perlu
kuseretpaksa dia untuk sekali
lagi berdiri atau duduk atau terbaring
menghadapMu
Aku akan
mencariku.
…bahwa sejatinya hatiku ini tolong Engkau ambil dan perlakukan apa saja.
Bahwa sesungguhnya
Engkau mengambilku lebih
kusukai daripada untukku
melukai,
namun di satu sisi
aku tak sungguh punya
cukup untuk kubawa
menghadapMu
jadi
bagaimana?
Bahwa sebenar-benarnya
aku menolak untuk menyerah
bukan karena dia, dia
dia, namun hanya
karena
Engkau
tak mengizinkanku
menyerah
jadi
bagaimana?
Bahwa sejatinya
hatiku ini tolong
Engkau ambil dan
perlakukan apa saja,
apa saja, karena aku
terbukti tak
sungguh tahu
ke mana
harus
membawanya,
tolong ambil
dan bawa ke mana
saja
Engkau tahu
aku
tidak.
Aku Bersajak Karena Aku
Aku bersajak karena aku
gundah, dan
pada akhirnya di balik segala
perilakuku
aku tak ingin
menjadi
jahat.
Tentang Ini Aku Menangis
“Percaya engkau
pada cinta?”
satu waktu aku bertanya
padaku
sendiri
“Aku percaya
tentang mati,”
jawabku, “saat
mati kita
sendiri. Juga saat
dibangkitkan,
kita
sendiri.”
Kalau perlu aku untuk
menangis,
tentang ini aku
akan
menangis
Ini Sajak yang Tak Seperti Biasanya
Ini sajak yang awalnya aku tuliskan di dalam telepon genggamku pada satu malam ketika aku mengantuk dan akan berangkat tidur. Di dalam sajak ini tidak ada pola, rima, atau metafora yang biasa dipakai untuk membuatnya terdengar indah.
Aku ingin ia bercerita padamu jujur dan lekas, tidak melulu merayu tentang percik pelangi dan taman bunga. Ini sajak tentang ikatan. Sajak ini, seperti apa saja lainnya, satu hari nanti akan luruh dan berlalu, jadi kuharapkan dua kata terakhir nanti yang paling lama bertahan setelah sisanya hilang, setidaknya untuk sementara waktu.
Engkau, hatiku.
Tetap pada Garis Edar Hatimu
Mungkin kita ditakdirkan hidup
di angkasa luar, kita
satelit
mengamati namun menolak
berpijak pada
bumi yang
sama
Mungkin kita digariskan selalu berlari
dalam garis melingkar mentari, kita
setia
dalam orbit pemahaman
yang kita pegang
dan kenali
sendiri
Tetapi tetap pada
garis edar hatimu denyut
jiwaku, meski
perihelium, meski
aphelium.
Tidur dan Beristirahatlah
Tidur dan
beristirahatlah, tidak
perlu engkau hadir
di sana esok hari:
Demi Tuhan yang jiwaku
di genggamanNya, engkau
lebih berhak atas
kesehatanmu sendiri
daripada mereka berhak atas
jasa dan
karyamu
esok hari.
Masih Banyak dan Sudah Banyak di Negeri Ini
Masih banyak dan sudah banyak
di negeri ini yang bersajak
mendengar dendang dalam tiap-tiap
hati mereka sendiri, dan aku
tidak melakukan ini karena
aku merasa ada yang perlu
aku tambahkan, aku
sesalkan, tidak ada yang
bisa aku
sumbangkan
Tetapi agar engkau tahu,
malam ini ingin rasanya aku
marah
tidak karena ada sesuatu yang
terjadi padaku, tetapi karena
kemarahan-kemarahan pada
sajak-sajak mereka yang
satu, dua, tiga, empatpuluh tahun
lalu itu ternyata sampai sekarang
belum juga ada yang
menjawabnya,
belum juga ada yang
meredakannya
Malah kurasa jika kini mereka
diberikan secarik kertas dan
kesempatan menggerakkan lagi
lidah nurani mereka, pasti sekejap
habislah lembaran itu oleh
coreng-moreng dan
hitam legam tinta
Tidak akan ada lagi kata,
tidak ada, tidak akan lagi ada
kata dari mereka
karena amarah itu bertahun
menembus zaman dan tentu
patahlah hati-hati mereka
mendapati kata-kata itu
tak
berbuat apa-apa
untuk negeri
ini.
Juni Berlalu Tanpa Puisi
Juni berlalu tanpa puisi, karena
di sini aku membiarkan hidup
menembusi relung-relung alir darahku
dalam kisah, kisah, kisahnya yang
tak berhenti, dan aku tak lagi
merasa perlu
mencatatkannya
dalam kata-
kata
Puisi bulan Juni adalah
bagaimana kemudian aku menegakkan
punggungku sendiri dan
memilih bagaimana akan
melangkah, ke mana akan
berjalan
Puisi bulan Juni adalah
bagaimana aku menangkapi udara
untuk masuk menjadi nafasku,
menjadi aku, dan dengan apa
nanti aku akan
menjawab
pengorbanannya
Puisi bulan Juni adalah
bagaimana aku menatap, mendengar
menggenggam dan melepaskan
menjadi
satu
Juni berlalu tanpa puisi, tapi
Aku yang kau lihat nanti
adalah juga
puisi
bulan Juni.
Tanpa Nama Kita
Tanpa nama kita diam terpana
di antara rona semesta,
tetapi engkau aku
dan di dalam riak sesak
dadamu itu
hatiku
Maka dari itu
dengarlah:
Engkau dan aku
belum lagi merasa debur yang
sama di antara kaki-kaki
kita, di tengah
hampar pasir yang lembut dan
remeh dan hangat dan
mengganggu
Engkau dan aku
belum lagi menatapi kelopak
tulip berwarna-warni berlatar
belakang
kincir angin dan atap-atap
merah tua yang sesekali disinggahi
burung-burung gereja yang mungil
dan lesat dan senantiasa lapar dan
bertebaran
Engkau dan aku
belum lagi hidup menghirup
aroma kopi di sekeliling
lembah pegunungan dan
lautan hijau pepohonan yang riuh dan
berkelok dan melandai dan
tersapu angin dan
hujan
Maka itu, maka
dari itu
ambil nafasmu
dalam-dalam dan mari,
mari bertahan hidup
bersamaku
Bertahan.
Ini Nyanyi Hujan yang Lama
Ini nyanyi hujan yang lama
tak diperdengarkan Tuhan
pada telingaku yang tua
dan pekat oleh lagu-lagu murahan
Di bawah hujan ini dahulu aku
mengamati perahu-perahu kertas dari
kertas koran, dalam benakku mereka
mengayun mengalun lancar melewati
riak turunan dan mendaki liuk
parit dan alur tepian jalan,
tetapi
Di bawah hujan ini dahulu perahu-
perahuku
hancur dan larut oleh butir-butir
raksasa di atas dek dan buritan,
dinding-dindingnya terkelupas dan
mereka perlahan jatuh
terseret gelombang,
tetapi
Di bawah hujan ini dahulu aku
menggenggam erat satu cerita
untuk aku kisahkan
kembali
nanti, tentang:
aku:
untuk pertama kalinya
berlari
menyambut hujan, menuju
pelukan rindunya
aku:
untuk pertama kalinya
berlayar
saat mereka semua berlari
meneduhkan diri,
menuju saujana aku
mengangkat sauh, menuju laut
lepas aku
berlayar
Jauh,
jauh, di bawah nyanyi
hujan yang sama terngiang
di telingaku
siang
ini.
Tiga Boneka Beruang di Kavelstraat
Tiga pasang beruang buatan,
boneka, bermandi cahaya pagi
di balik kaca
jendela
satu toko
mainan tua di
Kavelstraat
Terus mengembang
senyum mereka bersama
binar bola mata yang
bulat hitam tanpa mengenal
hasrat dan tanya dalam
jiwa
manusia-
manusia yang
mengamatinya
Bagi mereka hidup
adalah duduk bersandar
satu sama
lain, bermandi cahaya pagi
di balik kaca
jendela
satu toko
mainan tua di
Kavelstraat
Sampai nanti barangkali
satu gadis belia akan
bersorak menunjuk-nunjuk
menarik ujung mantel
ibunya
dan
tak berhenti merengek
hingga dapat
membawa mereka
pulang, pulang
Sampai saat itu,
tiga boneka beruang
di Kavelstraat
masih
akan tetap
tersenyum.
Skala
Matahari!
melihatmu aku samar teringat
tentang ruang, tentang waktu, tentang gravitas
dan tentang kenyataan bahwa jika aku
datang padamu
maka segala semestaku tentang derita, cinta
dan puncak lembah yang terangkum
di dalam jiwaku
lenyap
seketika
Dalam pijarmu aku
tak berbekas, menemukan
sekali lagi bahwa
aku manusia
kecil
dan
tiada
Dan pijar bintang!
pada kulit lenganku yang
terbelai cahayamu kuterima
catat pesanmu, pesan
yang kau tuliskan dua tiga
empat juta
tahun yang lalu
dan kini
terserap, menghambur,
berpendar lalu
lenyap
Tak sempat kudengar
apa yang ingin
engkau ceritakan, pun
rentang hidupku seketika
tiada
saat kurenungi usia
sinar ini, yang
laju dan lurus dua tiga
empat juta
tahun lamanya hingga
akhirnya luruh
di
tubuhku
Pemikiran dan khayalku
tak memahami
skala, tak sungguh
mengerti
kecuali bahwa
aku ini
kecil
dan akan terus-
menerus
menjadi
kecil.
Masih Tetap Di Sini
Kabut pagi ini terlalu tebal untuk kau dan
aku melihat mentari terbit di tepi laut
itu,
tetapi lihatlah jalan di
sisi pantai ini, dengan rerumputan sederhana
di kanan kirinya dan
pagar rendah tempat kita biasa
merengkuh merekam nyanyian
camar dan debur dua pertiga
dunia:
mereka masih tetap di sini
Juga tentang aspal yang keunguan
dengan genangan sisa air pasang dan
rekahan di pinggirannya, jalur
kita bersepeda atau
sekedar melangkah pulang
bersama:
mereka masih tetap di sini
Juga tentang siluet bukit di kejauhan
dan perahu-perahu nelayan yang
beranjak pulang, teman kita
ribuan kali melukis jejak-jejak
pasir dan istana:
mereka
masih tetap di sini
Maka apa yang
hendak kau khawatirkan
hari ini?
Pada Panggungmu Berpijak
Pada satu musim panas, tersadar engkau tentang
sayap-sayap yang tak pernah ada di punggungmu
dan hari itu engkau mengerti
tentang mimpi-mimpi lama yang harus mati
untukmu tetap berpijak di bumi ini,
saat ini
Tak lagi akan teraih:
rembulan, gemintang, kaupahami mereka
di luar rentang tanganmu
dan kau tahu pasti di mana engkau berdiri
Tanpa sanggup untuk terbang, melangkahlah, melangkahlah
Saat kita jumpai lagi rintang asa akan kugenggam
jemarimu, dan kala harus kau paksa tawamu untuk
lalui sesaknya malam
aku akan tetap
bernyanyi untukmu,
Lu la la
Majulah, teruskan, juga ketika engkau
tanpa arah, tanpa kebenaran di sisimu
karena tidakkah kau lihat?
Pada tempatmu berpijak, jalanmu merekah menyebar
tiga ratus
enam puluh derajat:
jalanmu,
semuanya.
Di ujung kesepianmu, pada perhentian
untukmu mengambil sekedar minum dari
bekalmu, telah tertera jumpa dan
perpisahan pada
sinar wajahmu
Dan untukmu yang selalu mengharap, “andai
aku seorang yang lebih baik
hati”
tiap engkau mengamati tangis mereka
yang berlalu, kukatakan padamu
sesungguhnya engkau pemilik
sebaik-baiknya
hati
Demi tiap pecahan doa yang kau
percayakan pada tiap langkah kakimu:
berteriaklah pada dunia
berbanggalah karena engkau
telah sanggup sampai
di sini
Sebenar-benarnya cahaya di matamu akan
kembali, selagi engkau terus berjalan
dan memunguti tiap-tiap
kerikil yang meluka
menjatuhkanmu
Engkau, setitik debu, namun juga
pusat semesta yang
meluas
tanpa batas
Mimpi-mimpimu yang mati untuk
melindungimu, lihatlah, mereka mengawasi
langkahmu dari singgasana mereka di
akasa, pula saat engkau lemah
mereka akan tetap
bernyanyi untukmu,
Lu la la
Rembulan itu, bersama gemintang
tetap akan menyinari panggungmu, maka
berteriaklah pada dunia,
berbanggalah karena engkau
ada
di sini
Cahaya itu tetap bersamamu, di hari-
hari engkau kehilangan arah, di hari-
hari kebenaran tak berpihak padamu
karena tidakkah kau lihat?
Pada panggungmu berpijak, setia ia menerangi
tiga ratus
enam puluh lima hari:
waktumu,
seluruhnya.
Bump of Chicken – Stage of the Ground