Mendengarmu
Biarkan, biar aku mendengarmu
juga bila engkau terdiam sewaktu
rintik badai menghampirimu (“Ini
musim cuaca buruk,” kata mereka, “jangan
dulu datang padanya.”—tetapi apa peduliku?)
Juga bila engkau terbangun pada pagimu:
dengan burung-burung lautan dan
awan-awan. Aku ingin mendengarmu, sudah,
perihal ini sudah tidak bisa
ditawar-tawar
lagi
Juga bila engkau tidak peduli sebagaimana
aku tidak peduli dan satu seribu sejuta kali
ombak memecah diri di daratan lalu
pulang kembali, setahun sewindu berlalu
sentiasa,
sentiasa (“Apatis,” katanya, tetapi kita
tidak sedang berputus asa, bukan?)
Lewat kata yang
dibisikkan dedaunan, pada pesan-pesan
di kaki-kaki angin, dalam botol kaca yang
terdampar, pada
jejak-jejak kaki kepiting dan keong
dan entah apa, biar aku
mendengarmu.