Maka itu Kita Pergi
Hujan,
hujan yang terpercik di atas payungmu,
di bawah sepatu bootmu
Hanya air,
hanya air. Oh, tentu, sesekali
ia membuatmu menggigil, membasahi pakaianmu, dan
jika angin sedang ingin berhembus kencang ada kalanya
tetes-tetes itu menjelma peluru, tajam
menusuk-nusuk kulit lenganmu
tetapi tetap
hanya air, yang
bisa dengan mudah engkau
menangkapnya, menamparnya, membawanya
bersamamu ke mana kau pergi dalam
wadah plastik, kaca, dalam
apa saja
Juga adalah hujan
yang perlahan meresap
di hatimu, tetes demi tetes
membuatmu percaya tentang
nasib buruk, tentang jalan
yang tak ada
ujungnya, tentang redup yang
tak ada hentinya
Maka itu kita pergi,
berlari, mencari
matahari.